Saturday, 11 October 2014

Asa di Balik Pohon Keramat

Sumber gambar : merdeka.com

Pohon keramat, satu hal yang banyak dijumpai di dalam kepercayaan masyarakat tradisional. Pohon keramat biasanya adalah pohon yang besar, berusia tua, dan memiliki tampilan yang menyeramkan (di malam hari khususnya). Pohon yang dikeramatkan biasanya adalah pohon beringin. Pohon beringin yang besar serta akar yang lebat akan memicu rasa ngeri bagi orang-orang di malam hari.

Pengeramatan suatu pohon biasanya akibat adanya “sesuatu” di balik pohon tersebut. Pohon diyakini angker karena ada “penunggu”nya sehingga harus dijaga dan diberikan sesajen. Di sisi lain biasanya ada orang-orang yang melakukan pertapaan untuk ngalap berkah mencari kekayaan dalam waktu singkat.


Pohon keramat menjadi suatu local wisdom sehingga keberadaannya untuk studi sosial menjadi unik. Hal ini karena hanya dijumpai di Indonesia, tidak ada di negara-negara barat sana. Local wisdom ini menjadi satu senjata ampuh untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya untuk menjaga sumberdaya alam.

Tahukah Anda bahwa di balik pengeramatan suatu pohon terdapat satu hal penting yang harus diketahui oleh semua orang, terutama oleh mereka yang menganggap bahwa suatu pohon memiliki kekuatan ghaib tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk meluruskan pemahaman yang keliru, yang telah berabad-abad mengakar di budaya tradisional kita. Dengan memberikan pemahaman yang benar maka kita dapat membebaskan mereka dari budaya syirik yang dapat menyeret seseorang pada dosa terbesar tak terampuni.

Jadi, kenapa pohon yang dikeramatkan adalah pohon yang besar dan berusia tua? Kenapa mayoritas adalah pohon beringin? Jawabannya adalah karena pohon, terutama pohon beringin yang besar memiliki nilai hidrologis yang tinggi. Struktur perakaran pohon beringin yang dalam menjadikannya mampu menyimpan cadangan air dengan baik pada musim hujan dan mengeluarkannya pada musim kemarau. Kita tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya pohon beringin tumbuh di daerah yang menjadi sumber air. Semakin banyak keberadaan pohon beringin di suatu daerah maka ketersediaan air di daerah tersebut akan semakin terjaga. Kita dapat membedakan bagaimana kondisi air di daerah yang banyak terdapat pohon (di desa) dengan daerah yang sangat sedikit pohonnya (di kota). Itulah sebabnya mengapa penduduk kota banyak yang menggunakan air dari PDAM.


Zaman semakin maju dan perkembangan teknologi semakin pesat. Sudah saatnya kita meninggalkan pemahaman yang salah tentang pohon keramat. Sebagai manusia terdidik, kita harus mampu melihatnya dari sudut pandang ilmiah bahwa di balik pengeramatan suatu pohon pasti ada maksud tersembunyi di baliknya. Jika kita tidak diperbolehkan menebang suatu pohon, itu artinya bahwa pohon memiliki fungsi strategis untuk menjaga sumber air yang kita gunakan sehari-hari. Jika kita menebang semua pohon, terutama pohon besar yang berusia tua, dari mana kita akan mendapatkan cadangan air? Pada akhirnya, istilah pohon keramat menjadi local wisdom yang harus kita jaga namun disertai dengan pemahaman yang benar tentang sebab pengeramatan pohon tersebut. Pengeramatan pohon hanyalah satu cara agar kita bisa menjaga sumberdaya air kita untuk kehidupan yang lebih baik.

Sudahkah kita paham??? :)


Referensi:

Samsul Ulum. 2014. Manfaat Beringin dalam Pembangunan Kawasan Hutan
Read More

Saturday, 4 October 2014

Kabupaten Kediri


Kabupaten Kediri merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan luas wilayah 963,21 km2 dan terdiri atas 26 kecamatan. Di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Nganjuk, di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Blitar dan Tulungagung, di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Malang, dan di bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo.Di tengah-tengah wilayah  Kabupaten Kediri terdapat wilayah Kota Kediri yang luasnya 63,40 km2.

Secara geografis, Kabupaten Kediri diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Kelud (1.731 mdpl) di sebelah timur dan Gunung Wilis (2.563 mdpl) di sebelah barat. Di tengah-tengah wilayah ini mengalir aliran Kali Brantas yang berhulu di Kota Batu dan berhilir di Kabupaten Gresik.


Secara fisik, tanah di Kabupaten Kediri cukup variatif. Kondisi tersebut tidak terlepas dari adanya dua gunung yang sifatnya berbeda, yaitu Gunung Kelud yang bersifat vulkanik dan Gunung Wilis yang bersifat nonvulkanis. Menurut Yuana Pristy K.A. (2012), macam tanah di Kabupaten Kediri adalah sebagai berikut: 
  1. Regosol coklat kekelabuan yang sebagian besar ada di wilayah Kecamatan Kepung, Puncu, Ngancar, Plosoklaten, Wates, Gurah, Pare, Kandangan, kandat, Ringinrejo, Kras, Papar, Purwoasri, Pagu, Plemahan, Kunjang, dan Gampengrejo.
  2. Aluvial kelabu coklat dijumpai di Kecamatan Ngadiluwih, Kras, Semen, Mojo, Grogol, Banyakan, Papar, Tarokan, dan Kandangan.
  3. Andosol coklat kuning, regosol coklat kuning, dan litosol dijumpai di daerah ketinggian >1.000 diatas permukaan laut seperti Kecamatan Kandangan, Grogol,  Semen, dan Mojo.
  4. Mediteran coklat merah dan grumosol kelabu terdapat di Kecamatan Mojo, Semen, Grogol, Banyakan, Tarokan, Plemahan, Pare dan Kunjang.
  5. Litosol coklat kemerahan terdapat di kecamatan Semen, Mojo, Grogol, Banyakan, Tarokan dan Kandangan.
Kondisi tanah yang variatif tersebut menyebabkan banyak potensi di bidang pertanian dan perkebunan yang dapat digunakan untuk menunjang kehidupan dan mendukung terciptanya kesejahteraan sebagian besar penduduk di Kabupaten Kediri.


Referensi :
Kabupaten Kediri
     http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kediri (4 Oktober 2014)
Yuana Pristy K.A. 2012. Jenis Tanah di Kabupaten Kediri.
     http://blog.ub.ac.id/yupristy/2012/06/25/jenis-tanah-di-kabupaten-kediri/ (4 Oktober 2014)

Read More
Paling Dibaca