![]() |
| Gunung Prau (source : gunung.id) |
Kisah perjalanan kali ini tentang pendakian ke Gunung Prau, gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Batang. Kisah perjalanan ini sudah lama yaitu pada bulan Juni 2015, namun baru bisa dibuat dalam bentuk tulisan pada kesempatan kali ini. Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman yang sedang turut mencerdaskan bangsa melalui program SM3T. OK, langsung saja ke cerita ya, hehe...
.
Hari itu, 7 Juni 2015 kami berangkat dari Solo. Dua kaki ini melangkah keluar dari kos gerbang ijo sekitar pukul 15.00 WIB tepat setelah shalat asar. Waktu itu sang kaki langsung melangkah ke halte BST yang ada di seberang jalan rumah dinas Pak Rektor, Rektor UNS tentunya..hehe. Oh ya, sebelumnya sudah janjian sama Raden Mas Bowo naik BST yang sama, dia naik dari Palur dan saya dari Pucangsawit, maklum baru pertama kali itu naik BST :P. Maunya si naik Sumber Kencono, tapi karna sudah diganti jadi Sugeng Rahayu dan Sumber Selamat ya gak jadi naik, daripada kebablasan. Lha masak cuma mau ke Solo Balapan harus naik Mas Sugeng..haha. Setelah pak sopir BST yang baik hati itu memberhentikan bus tepat di depan saya, akhirnya saya pun masuk ke dalam bus karena si mbak kondektur sudah membukakan pintu otomatis. Hawa panas Kota Solo seketika menjadi adem sodara-sodara, ternyata di dalam BST cukup nyaman lho, hehe.
.
Kurang lebih 15 menit, akhirnya bus berhenti di halte depan Solo Balapan. Pintu ajaib pun terbuka, dan wussssshhhhhh.... hawa panas kembali menyapa. Sebelum masuk stasiun, kami berdua menunggu dulu rekan seperjuangan, namanya Mas Madi dan Mas Yogo. Kurang lebih 10 menit menunggu, mereka pun datang dengan kuda besinya. Tanpa banyak cakap, mereka langsung parkir dan kita siap masuk stasiun. Pak petugas pemeriksa tiket dengan senyuman khasnya seolah mengintimidasi kami sehingga kami pun luluh dibuatnya, hingga akhirnya 4 tiket diserahkan ke bapak itu. Setelah tiket disahkan, kami baru bisa masuk ke arena tunggu kereta (hanya sebagai gambaran prosedur naik kereta bagi yang belum pernah naik, hehe.. piss). Tak disangka, ternyata sang kereta sudah menunggu dengan anggunnya di sana. Usut punya usut, ternyata Solo Balapan adalah stasiun pemberangkatan utama kereta menuju ke kandangnya di barat sana. Baru kali ini lho ditunggu kereta, biasanya kalau ke Bandung harus nunggu dulu sang kereta 1,5 jaman...haha. Oh ya, nama keretanya adalah Pramek, alias Prambanan Ekpress. Sudah berapa kali kalian naik kereta ini? Kalau saya baru pertama kali juga, memalukan memang, hehe.
.
Setelah naik kereta dengan ditemani pemandangan langit sore yang menyejukkan, akhirnya kami tiba di Stasiun Jenar sekitar pukul 18.00 WIB. Perjalanan dari Solo Balapan ke Jenar kurang lebih memakan waktu selama 2 jam. Setibanya di sana, kami disambut dengan penuh antusias oleh Mbak Anggit plus Pakdhe dan Budhenya yang baik hati. Kurang baik bagaimana coba, kami dijemput menggunakan mobil, hehe. Kurang lebih 10 menit berada di sebagaian jalanan Purworejo yang berlubang cacing, kamipun tiba di rumah Mbak Anggit, disambut ibu dan adik-adiknya serta satu orang teman bernama Mbak U (lupa namanya). Adiknya ini ada 2 gadis semua, yang paling besar masih SMA, kelihatannya pendiam, kelihatannya. Dan yang kecil masih SD, ceria dia anaknya, hehe. Nah setelah tiba, kami berempat langsung mandi, bergantian, dan istirahat untuk persiapan perjalanan keesokan harinya.
.
Pagi-pagi sekali subuh bangun dan sholat lanjut mandi. Kemudian dikasi makan dan dengan lahapnya bercampur sedikit rasa malu pasti habis, maklum anak kosan. Setalah makan kamipun siap-siap berangkat, tak lupa pamitan sama keluarga yang ada di rumah, mulai dari Bapak pemilik rumah hingga tetangga-tetangga yang ada di situ, macam orang mau naik haji itulah, hehe. Skip...
.
Perjalanan dari Purworejo ke Wonsobo menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dengan biaya Rp 25.000. Selama dua jam itu pula perut terguncang dan rasa mual mulai muncul, maklum sudah lama tak naik alat transportasi mini bus. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana rasanya naik bus kecil yang penuh sesak penumpang dan berdiri selama kurang lebih satu jam plus jalanan khas pegunungan yang berliku, berliku seperti jalan hidup ini (curhat). Satu kursi kosong tentunya begitu berharga, hehe. Untungnya selama perjalanan tidak jadi muntah, mual tok...
.
Nah pas sampai di Wonosobo kami bertujuh harus oper bus lagi ke Pos Pendakian di Desa Patak Banteng dengan biaya Rp 15.000 dan memakan waktu 1 jam perjalanan. Oh ya ada yang lupa. Disini yang jadi berangkat mendaki ada 7 orang, 4 laki 3 perempuan. Nah 1 perempuan itu tiba-tiba nongol di detik-detik akhir menjelang keberangkatan, katanya si baru dapat SIM, alias Surat Ijin Mendaki dari bapaknya, haha. Namanya Mbak Latif, temennya Mbak Erma. Kembali ke cerita...... Nah pas asik nan santai di dalam bis ini, kami lihat ada sticker berisi tulisan curhatan seperti di bawah ini...
.
“Sabar menyakitkan,
Diam menyiksa,
Bicara percuma.”
Diam menyiksa,
Bicara percuma.”
Hmmmm... Mungkin itu adalah jeritan hati Sang Sopir...hehe.
.
![]() |
| Sticker di bus pemberangkatan |
.
Sabar, mungkin memang menyakitkan sih, tapi semoga kesabaran itu bisa berbuah manis. Misalnya mbak-mbak yang lagi nunggu pangerannya datang ke rumah ketemu Si Bapak, eh tapi yang diharapkan gak datang-datang, ya sabar ae dulu mbak sambil memperbaiki diri, pasti nanti bakalan datang orang-orang yang bertanggungjawab kok...hehe. Mas-mas juga begitu, kalau “bertamu” tapi kemudian ditolak, ya yang sabar...
.
Diam, bagi sebagian orang adalah siksaan karena mereka tak bisa mengekspresikan keinginannya dengan hanya diam. Mbak-mbak yang lagi suka sama mas-mas tapi gak bisa ngomong ya mungkin itu siksaan batin. Begitu pula sebaliknya mas-mas yang menyukai mbak-mbak tapi gak berani bilang ke orangtuanya ya mau bagaimana lagi, rasa diam itu pasti menyiksa... Betul? (100% bukan curhat lho, hehe)
.
Bicara, bisa percuma tapi bisa juga “tidak percuma”. Bicara percuma itu ya bicara sama orang-orang yang ngeyel dan kolot. Kalau bicara sama orang yang pandangannya terbuka ya enak-enak saja to, bisa terjadi interaksi malahan. Kalau bicaranya nyambung ya siapa tau bisa jodo. Iya, jodo jika lawan bicara perempuan, nah kalau laki-laki? Ya tetap saja jodo, jodo berteman..haha.
.
Nah mungkin itu sedikit pembahasan tentang sticker yang nempel di pintu mobil bus mini itu [gak penting..haha]. Masih banyak tulisan-tulisan lain yang bersifat motivasi maupun sindiran bagi para jomblo [makanya gak ditulis]. Sekarang mari kita kembali ke cerita Gunung Prau...tetot!!!
.
Kurang lebih pukul 12.00 WIB kami tiba di Base Camp Pendakian di Desa Patak Banteng. Tenyata suasana cukup ramai di sini, mungkin karena banyak mahasiswa yang berlibur dan memanfaatkan waktunya untuk sekedar mendaki gunung rendah. Oh ya, sepertinya saya sudah tidak asing lagi dengan daerah ini karena sekitar dua taun lalu pernah ada realisasi kegiatan PKM di sana, hehe (bantu-bantu teman maksute). Dulu tidak pernah kepikiran bakal kembali ke tempat ini, tapi takdir berkata lain, jadi ya dinikmati saja sambil nostalgia.
.
![]() |
| Mas Yogo sedang melakukan registrasi di Base Camp pendakian |
.
Karena sudah masuk waktu shalat dhuhur maka diputuskan untuk mencari mushalla dekat Base Camp. Setelah shalat maka alangkah baiknya mengisi perut yang sedari tadi sudah keroncongan...ngekngok. Diputuskan bahwa lokasi makan siang adalah “Kedai Kembar”, ya mungkin nama itu sebagai bentuk rasa syukur atas anak kembar yang dianugerahkan kepada si pemilik warung. Tak perlu lama-lama kami pun memesan makan siang, yaitu bakso. Nah sambil menunggu bakso jadi, kami menyantap gorengan yang disajikan di meja. Ada yang unik di sini, apa itu? Lomboknya itu lho, gedhe-gedhe. Anehnya lagi, meskipun gedhe tapi rasa pedesnya gak kerasa..hehe. Meskipun demikian niat makan banyak sambal harus diurungkan karena di jalur pendakian tentunya tidak ada toilet. Daripada kebelet di tengah jalan, mending cari slamet...hehehe. Tetttttt.... Setelah menunggu akhirnya Sang Bakso pun tiba dan segera habis dalam waktu 5 menit. Bener-bener gak sepadan dengan waktu nunggu jadinya bakso. Gak perlu lama-lama karena pendakian akan segera dilakukan. Setelah makan ya Pay-Packing-and Go!!!
.
![]() |
| Mas Bowo sedang makan gorengan dan lombok gunung |
.
Makan siang slesai dan sasaran selanjutnya adalah Base Camp pendakian. Setiap pendaki diwajibkan melakukan registrasi dan menyerahkan list para pendaki yang akan ikut. Tentunya itu adalah upaya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pendaki yang melanggar peraturan pendakian harus memberikan ganti rugi, yaitu berupa bibit pohon. Jumlah bibit pohon untuk dendanya bergantung pada jenis pelanggaran kecuali mencuri dan berzina yang hukumannya diserahkan kepada pihak yang berwajib...Jangan Coba-Coba!!! Karena kita mendaki gunung untuk bersyukur atas nikmat Tuhan, bukan untuk berbuat dosa.
.
![]() |
| Ketentuan denda di Gunung Prau |
.
Registrasi pun selesai dan perjalanan mendaki dimulai. Baru seratusan meter jalan mendaki, nafas pun sudah mulai ngos-ngosan. Mungkin itu akibat jarang olahraga, akibat skripsi (cari kambing hitam, wkwk). Eh tapi kita gak boleh menyalahkan skripsi dink ya..hehe. Hal itu wajar jika sudah lama tak mendaki, maka awal-awal jalan akan terasa berat dan capek, tapi setelah satu jam perjalanan akan kembali normal karena sudah menemukan “feel”nya.. Di sepanjang perjalanan menuju pos 1 banyak ditemui tanaman kentang dan carica, yang merupakan ciri khas Wonosobo. Sudah pernah lihat carica? Yang adiknya pepaya itu lho, hehe.
.
![]() |
| Pohon Carica |
.
Kurang lebih satu jam perjalanan kami sudah tiba di Pos 1. Di sini terdapat gubug untuk berteduh. Tapi karena sedang mendung maka tidak perlu berteduh, yang penting bisa istirahat meregangkan otot-otot kaki. Seperti biasa, sambil istirahat pasti ada sesi poto-poto...wkwk. Dan dari tujuh pendaki yang naik, pasti ada satu yang menjadi korban sebagai potograper, nah kali pertama ini yang apes adalah Mbak U, satu-satunya pendaki yang bukan anak Geo, hihi. Setelah istirahat dirasa cukup dan “bensin” sudah penuh maka dilanjut lagi jalan ke Pos II. Jarak dari Pos I ke Pos II ini tidak begitu jauh karena setengah jam perjalanan sudah sampai. Karena saat tiba di Pos II belum terasa capek maka perjalanan langsung dilanjutkan menuju Puncak...gemilang ca..ha..ya... :P
.
Pos II menuju Pos III mungkin adalah yang paling berat. Hal ini karena medannya cukup curam dan tanahnya licin terkena air hujan. Harus ekstra hati-hati karena jika ceroboh bisa terjatuh. Perjalanannya cukup lama karena sering berhenti untuk istirahat. Harap maklum karena salah satu peserta pendakian memiliki berat badan berlebih. It’s not a problem, karena mendaki adalah untuk saling mengerti dan memahami. Kalau memang capek dan harus istirahat yang gak perlu dipaksakan, karena semua teman pandakian juga memahami kondisi itu, dan mereka fine-fine saja...hehe. Sikap egois ketika mendaki hanya akan memperburuk kondisi pertemanan. Intinya adalah pergi bareng, capek bareng, dan pulang bareng. Rasa lelah mendaki sedikit terobati ketika di tengah perjalanan menjumpai aneka bunga berwarna indah, sejuk dipandang mata. Pengen metik satu tapi kasian, karena kalau dipetik pasti mati, nah karna itu maka metiknya pakai kamera...hehe.
Pos II menuju Pos III mungkin adalah yang paling berat. Hal ini karena medannya cukup curam dan tanahnya licin terkena air hujan. Harus ekstra hati-hati karena jika ceroboh bisa terjatuh. Perjalanannya cukup lama karena sering berhenti untuk istirahat. Harap maklum karena salah satu peserta pendakian memiliki berat badan berlebih. It’s not a problem, karena mendaki adalah untuk saling mengerti dan memahami. Kalau memang capek dan harus istirahat yang gak perlu dipaksakan, karena semua teman pandakian juga memahami kondisi itu, dan mereka fine-fine saja...hehe. Sikap egois ketika mendaki hanya akan memperburuk kondisi pertemanan. Intinya adalah pergi bareng, capek bareng, dan pulang bareng. Rasa lelah mendaki sedikit terobati ketika di tengah perjalanan menjumpai aneka bunga berwarna indah, sejuk dipandang mata. Pengen metik satu tapi kasian, karena kalau dipetik pasti mati, nah karna itu maka metiknya pakai kamera...hehe.
.
![]() |
| Bunga yang indah |
.
Matahari mulai tenggelam, dan embun mulai menyelimuti gunung. Setelah agak lama berjibaku dengan tanah becek dan dinginnya suhu di gunung, akhirnya kami bertujuh tiba juga di area camping pada sekitar pukul 18.30 WIB. Memang perkiraan waktu agak meleset, yang tadinya diperkirakan 2 jam jadi 4 jam. But is’s OK. Tiba di lokasi kami para lelaki langsung mendirikan tenda dan mbak-mbak masak air untuk menghangatkan badan, tak lupa juga menyiapkan makan malam... jreng jreng... Tak lama kemudian tendapun berdiri dan makanan sejuta umat “Mie Setan” pun siap dilahap, haha. Setelah memasak dan makan, serta shalat, satu per satu mulai tidur agar tidak kedinginan.
.
Tik tok tik tok tik tok...
.
Di tengah keheningan malam berhawa dingin, kurang lebih pukul 23.00 WIB terdengar dari kejauhan ada rombongan yang baru datang, dan mereka berhenti dan membuat sedikit kegaduhan di sekitar tenda kami, para lelaki. Kelihatannya mereka akan mendirikan tenda di sebelah kami. Karna malam semakin dingin, kamipun lanjut tidur, zzzZZZ.
.
Setelah beberapa saat tertidur, tiba-tiba suhu di dalam tenda berubah menjadi lebih dingin, dan ada suara seperti tutup tenda yang berisik tertiup angin kencang. Suhu dingin itu ternyata akibat air hujan yang masuk ke dalam tenda, itu berarti menandakan bahwa pelapis atas tenda kami terlepas. Kamipun terbangun, bukan hanya karena kedinginan, tapi “tetangga” sebelah yang berteriak-teriak memanggil temannya yang terlihat di kejauhan, padahal kondisinya gelap waktu itu. Mereka berteriak seolah tidak ada orang di sampingnya ini. Mengganggu, mengganggu sekali, bahkan mungkin pendaki lain juga terganggu. Ketika temannya yang dipanggil di kejauhan menyadari keberadaan suara si pemanggil, mereka akhirnya menuju ke sumber suara. Betapa terkejutnya ketika kemudia temannya yang datang itu berkata, “Anj*ng... Kenapa kalian ninggalin kami?”, kurang lebih seperti itu. Yang jelas saya ingat betul nama hewan yang diucapkan oleh si mas yang baru datang itu. Nampaknya dia sangat marah dengan temannya yang tiba terlebih dahulu. Sebenarnya tidak punya niat mendengarkan pertengkaran mereka, tapi ya mau bagaimana lagi, mereka ribut di samping tenda. Nah ternyata dia tadi marah karena teman-temannya pergi duluan ke campground, padahal rombongan yang ditinggalkan ada yang kondisinya sakit... wah wah wah.... pantas saja datang-datang langsung mengeluarkan si kata hewan.
.
Karena merasa tergangggu, akhirnya Si Bowo pun keluar tenda untuk memeriksanya. Dan ternyata memang benar terlepas. Dan yang lebih mengejutkan adalah ada satu pasak tenda yang terlepas sehingga tutup atas tenda itu pontang-panting tertiup angin. Betapa tidak bertanggungjawabnya, karena lokasi penancapan pasak tenda itu telah didirikan tenda di atasnya oleh rombongan terakhir tadi. Nah karena sudah semakin pagi, maka hawa dingin semakin ganas, dan mulai tidak bisa tidur, hanya gelimpungan di dalam tenda sampai waktu subuh tiba.
.
Setelah semua shalat subuh maka acara lanjut masak, utamanya masak air untuk menghangatkan badan sambil menunggu sunrise. Hari sudah semakin siang, tapi matahari tak juga terlihat karena tertutup kabut dan memang kondisi cuaca saat itu sedang tidak bagus, mendung terus. Akhirnya kami melanjutkan acara memasak dilanjutkan makan hingga pukul 08.00 WIB. Masakan pagi itu ada soup, tempe goreng, dan menu andalan mie godhog..hehe. Setelah itu dilanjut packing tenda dan perlengkapan lain karena harus segera melanjutkan perjalanan pulang.
.
![]() |
| Soup seadanya |
.
Perjalanan pulang mungkin cukup mengasyikkan karena pemandangan yang cukup menyegarkan pikiran. Dalam perjalanan ini waktu banyak dihabiskan untuk sekedar berfoto dengan latar belakang yang bagus. Terutama waktu melewati suatu lokasi yang dinamakan Bukit Teletubies. Sekilas, hanya sekilas, mungkin morfologinya mirip si, meskipun tekstur bukitnya sangat beda..haha. Di sini juga banyak dijumpai rombongan yang berfoto untuk sekedar “oleh-oleh” atau bukti bahwa mereka pernah ke sana. Sepertinya yang mendaki ke gunung ini memang orang jauh-jauh, karena rombongan yang kami temui banyak yang dari Jakarta.
.
![]() |
| Bukit Teletubbies |
.
Kurang lebih 3 jam menuruni bukit yang jalannya licin, akhirnya sampai juga di Base Camp. Setelah lapor sudah turun dari atas, kami bertujuh menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok. Harus nunggu agak lama agar mie tersaji, dan ketika mie sudah siap makan kami sedikit bingung. Mie Ongklok ini ternyata memang ada semacam bubur tepung kanjinya, entah apa itu namanya. Yang jelas waktu itu rasanya sedikit mengecewakan, dan kata teman-teman Mie Ongklok yang enak itu ada di pusat kotanya, bukan di sekitar basecamp pendakian itu. Ya tapi gak apa-apa lah, namanya juga coba-coba..hehe.
.
Setelah makan mie, kami lanjut sholat dhuhur dan selanjutnya pulang naik bus seperti bus keberangkatan kami. Sambil leyeh-leyeh di dalam bus, kami menikmati perjalanan pulang ini. Langit mendung dan gerimis pun seakan mengerti rasa lelah ini. Suasana kehangatan di dalam bus berisi para pendaki sangat terasa, karena bukan hanya rombongan kami, tapi juga ada rombongan lain yang pulang bareng, dan mereka adalah pendaki lokal yang rumahnya dekat-dekat situ. Kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai di tempat oper bus, yaitu di depan terminal Wonosobo. Nah sayang sekali kami kesorean tiba di lokasi oper bus ini, sehingga kami hanya mendaatkan satu bus yang menuju Purworejo. Itu pun sebenarnya sang bus tidak sampai ke Purworejo, hanya setengah perjalanan dan masuk ke garasi bus. Bus itu mau mengantarkan ke Purworejo dengan syarat harus membayar lebih mahal. Jika tarif normal adalah Rp 25.000 maka kami harus membayar Rp 42.000. Mahal memang, tapi ya diambil hikmahnya saja lah, yang penting bisa pulang. Toh juga gak setiap hari harus bayar bus mahal kan...hehe.
.
Hari semakin sore. Meskipun hati agak dongkol karena harus bayar lebih mahal, tapi perjalanan ini harus tetap dinikmati. Itulah kehidupan, penuh dengan ketidakpastian dan kita harus siap menghadapinya. Untuk kawan-kawan yang turut dalam perjalanan ini, semoga banyak hikmah yang dapat kita ambil. Dan ini menjadi salah satu cerita yang nanti bisa kita sampaikan kepada anak cucu kita...
.
" Tetaplah berjalan kawan,
Jangan takut,
Hadapi setiap resikonya,
Karena kita hanyalah manusia,
Yang harus berusaha,
Menikmati segala prosesnya.
Adapun hasilnya,
Kita pasrahkan pada Sang Kuasa..."
Jangan takut,
Hadapi setiap resikonya,
Karena kita hanyalah manusia,
Yang harus berusaha,
Menikmati segala prosesnya.
Adapun hasilnya,
Kita pasrahkan pada Sang Kuasa..."
.
Cerita perjalanan ini saya dedikasikan untuk kalian kawan, sebagaimana yang pernah saya katakan dulu bahwa saya akan membagikan tulisan ini pada kalian.
.
Tetap semangat dan songsong masa depan...
#VON
#VON
.










