Image source : fiverr.com
Cerita ini adalah sebuah cerita anekdot tentang profesi pilot dan guru yang selalu diceritakan oleh Pak Munif Chatib dalam memulai setiap pelatihan tentang Lesson Plan atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diadakannya. Cerita ini sedikit banyak telah memberikan gambaran tentang kondisi profesi guru di Indonesia saat ini yang semoga dari hari ke hari semakin mengalami perbaikan kualitas.
Jadi, begini ceritanya...
Dua orang lelaki mengaku berprofesi sebagai pilot dan guru. Saya tidak percaya. Lalu, si pilot mengeluarkan kartu pengenal dari perusahaan penerbangannya. Tak mau kalah, si guru juga mengeluarkan kartu pengenal dari sekolahnya. Karena saya masih belum percaya juga, si pilot mengeluarkan kontrak kerjanya sebagai bukti bahwa dia bekerja sebagai pilot. Sang guru juga mengeluarkan kesepakatan kerja bersama (KKB) antara dia dan skeolahnya. Tetapi, saya masih belum percaya.
“Lalu, bukti apa lagi yang Anda inginkan?” tanya sang pilot.
“Buktikan dengan kinerja Anda sebagai pilot, bukti yang bisa diukur ketika Anda pertama kali menjadi pilot sampai hari ini. Tepatnya, tunjukkan bukti kinerja Anda sebagai pilot.”
Sang pilot mengeluarkan dokumen laporan penerbangan pertamanya yang berisi asal dan tujuan penerbangan, nomor pesawat, jumlah penumpang, kekuatan angin, kondisi peralatan penerbangan, dan lain-lain. Ketika dokumen itu dikeluarkan semua, dibutuhkan dua menja panjang untuk menampungnya.
Saya langsung menjabat tangan sang pilot.
“Sekarang, saya percaya, Anda adalah seorang pilot.”
Lalu bagaimana dengan sang guru? Ternyata, sang guru tidak mampu menunjukkan dokumen kinerja tersebut. Sang guru sempat mendebat bahwa dia sudah mengajar selama 15 tahun. Namun tetap saja, dia tidak mampu menunjukkan bukti kinerja, yaitu laporan jam demi jam, hari demi hari, dan tahun demi tahun dia mengajar. Bukti apa yang bisa mengukur kualitas kerjanya selama 15 tahun mengajar? Sebenarnya, bukti kinerja seorang guru adalah dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau lesson plan.
Jadi, begini ceritanya...
Dua orang lelaki mengaku berprofesi sebagai pilot dan guru. Saya tidak percaya. Lalu, si pilot mengeluarkan kartu pengenal dari perusahaan penerbangannya. Tak mau kalah, si guru juga mengeluarkan kartu pengenal dari sekolahnya. Karena saya masih belum percaya juga, si pilot mengeluarkan kontrak kerjanya sebagai bukti bahwa dia bekerja sebagai pilot. Sang guru juga mengeluarkan kesepakatan kerja bersama (KKB) antara dia dan skeolahnya. Tetapi, saya masih belum percaya.
“Lalu, bukti apa lagi yang Anda inginkan?” tanya sang pilot.
“Buktikan dengan kinerja Anda sebagai pilot, bukti yang bisa diukur ketika Anda pertama kali menjadi pilot sampai hari ini. Tepatnya, tunjukkan bukti kinerja Anda sebagai pilot.”
Sang pilot mengeluarkan dokumen laporan penerbangan pertamanya yang berisi asal dan tujuan penerbangan, nomor pesawat, jumlah penumpang, kekuatan angin, kondisi peralatan penerbangan, dan lain-lain. Ketika dokumen itu dikeluarkan semua, dibutuhkan dua menja panjang untuk menampungnya.
Saya langsung menjabat tangan sang pilot.
“Sekarang, saya percaya, Anda adalah seorang pilot.”
Lalu bagaimana dengan sang guru? Ternyata, sang guru tidak mampu menunjukkan dokumen kinerja tersebut. Sang guru sempat mendebat bahwa dia sudah mengajar selama 15 tahun. Namun tetap saja, dia tidak mampu menunjukkan bukti kinerja, yaitu laporan jam demi jam, hari demi hari, dan tahun demi tahun dia mengajar. Bukti apa yang bisa mengukur kualitas kerjanya selama 15 tahun mengajar? Sebenarnya, bukti kinerja seorang guru adalah dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau lesson plan.
Profesionalisme seorang guru dibuktikan melalui Lesson Plan yang dibuatnya
Nah, dari anekdot itu maka jelaslah sudah bahwa profesi guru harus dijalankan secara profesional. Tingkat profesionalitas guru dapat diukur dengan Lesson Plan yang telah dibuatnya, sebagai salah satu amunisi untuk mengajar. Ibarat produser film, guru harus memiliki “script” untuk mengarahkan jalannya proses belajar-mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai bersama.
Kemudian muncul pertanyaan, “Bagaimana bentuk lesson plan yang baku?”. Mungkin pertanyaan ini sering muncul di benak para mahasiswa ataupun sarjana pendidikan yang baru saja lulus. Selain itu pula, kadang contoh lesson plan yang banyak beredar di “internet” adalah lesson plan yang kaku dengan metode yang itu itu saja alias kurang kreatif. Harus diakui banyak mahasiswa yang terjebak dengan hal ini, apalagi jika ditambah dengan alasan tugas kuliah yang “segudang” dan kesibukan “organisasi” yang beraneka ragam, membuat kreativitas mahasiswa yang sebenarnya sangat tinggi menjadi sangat tidak kreatif karena hanya melakukan copy-paste.
Nah, menanggapi pertanyaan itu kemudian Pak Munif mengatakan bahwa lesson plan itu sangat bervariasi. Meskipun beberapa pakar pendidikan seperti Bobbi DePorter, Dave Meier, Elaine B. Johnson, Coline Rose, dan Lozanov telah mencetuskan kerangka lesson plan yang berbeda, namun variasi lesson plan sebenarnya ditentukan oleh kreativitas dan kemampuan peserta didik. Kerangka lesson plan dari pakar pendidikan tersebut bisa saja dijadikan sebagai acuan, namun tidak boleh mengurangi kreativitas guru dalam membuat lesson plan yang menarik. Oh ya, Pak Munif juga mengatakan bahwa lesson plan sebaiknya dipisah dengan silabus karena hal itu dapat membuat strategi di dalam lesson plan menjadi baku.
Siapkah Anda, wahai calon guru dan para guru yang ingin mengembangkan diri, untuk membuat lesson plan yang menarik? Jika siap, maka berikut ini adalah struktur lesson plan yang didesain oleh Pak Munif dan bisa Anda kembangkan sesuai kreativitas dan kemampuan peserta didik. Lesson plan ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu ;
.
(1) Header atau pembuka, yang terdiri dari identitas (mata pelajaran, kelas, semester, alokasi waktu) dan silabus
.
(2) Content (isi) terdiri dari:
- Apersepsi (zona alfa, warmer, pre-teach, dan scene setting)
- Strategi mengajar
- Prosedur aktivitas
- Teaching aids
- Sumber belajar
- Proyek
- Apersepsi (zona alfa, warmer, pre-teach, dan scene setting)
- Strategi mengajar
- Prosedur aktivitas
- Teaching aids
- Sumber belajar
- Proyek
.
(3) Footer atau penutup, terdiri dari rubrik penilaian dan komentar guru. Komentar guru dapat berupa masalah, ide baru, dan momen spesial.
* Zona alfa pada apersepsi dapat berupa salam pembuka, cerita lucu, ice breaking, atau brain gym.
* Warmer biasanya digunakan pada pertemuan kedua dan seterusnya karena bersifat mengingatkan kembali tentang pelajaran yang telah dipelajari.
* Teaching aids adalah alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran
* Scene setting adalah setting pembelajaran (tematik)
Bagaimana? Cukup simple bukan? Tak perlu ribet dalam membuat lesson plan :)
Semoga bermanfaat.
Sumber inspirasi : Gurunya manusia by Munif Chatib
* Zona alfa pada apersepsi dapat berupa salam pembuka, cerita lucu, ice breaking, atau brain gym.
* Warmer biasanya digunakan pada pertemuan kedua dan seterusnya karena bersifat mengingatkan kembali tentang pelajaran yang telah dipelajari.
* Teaching aids adalah alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran
* Scene setting adalah setting pembelajaran (tematik)
Bagaimana? Cukup simple bukan? Tak perlu ribet dalam membuat lesson plan :)
Semoga bermanfaat.
Sumber inspirasi : Gurunya manusia by Munif Chatib

EmoticonEmoticon